Para Pengusaha Pangkalan Kerinci yang Tumbuh Berkat Royal Golden Eagle

Royal Golden Eagle

Indonesia saat ini masih kekurangan pengusaha. Padahal, keberadaan wirausahawan merupakan syarat sebuah negara untuk berkembang lebih baik. Kondisi ini mengusik grup Royal Golden Eagle (RGE) untuk bergerak. Bekerja sama dengan Tanoto Foundation, mereka berupaya melahirkan para entrepreneur anyar dari kawasan Pangkalan Kerinci.

Harus diakui, jumlah pengusaha Indonesia masih minim. Dulu, sekitar tahun 2013-2014, rasionya dibanding dengan jumlah rakyat Indonesia masih di bawah standar, yakni 1,67 persen. Padahal, standar minimal sebuah negara seharusnya memiliki dua persen pengusaha.

Akan tetapi, kondisi saat ini memang mulai membaik. Badan Pusat Statistik menyatakan pada Maret 2017, rasio pengusaha di negeri kita telah tumbuh menjadi 3,1 persen. Rasio ini sudah berada di atas standar minimal, namun tetap saja belum memuaskan.

Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di kedua negeri jiran itu, rasio pengusaha jauh lebih tinggi. Di Malaysia, sekitar 5 persen pendudukan merupakan wirausahawan. Bahkan, di Singapura, jumlah itu mencapai tujuh persen.

Negeri kita makin kalah jika dibandingkan dengan negara industri besar seperti Tiongkok, Jepang, atau Amerika Serikat. Di Tiongkok, sepuluh persen warganya adalah pengusaha. Jepang malah lebih baik satu persen di atas Tiongkok dan Amerika Serikat mencapai 12 persen.

Persentase itu menandakan kemajuan sebuah negara terkait erat dengan jumlah pengusaha. Semakin banyak jumlahnya, peluang sebuah negeri untuk berkembang kian besar. Inilah yang tengah diupayakan oleh Royal Golden Eagle. Kebetulan, pendiri RGE, Sukanto Tanoto, memang berambisi besar untuk melahirkan banyak wirausahawan dari Indonesia.

Untuk melakukannya, grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas tersebut menjalin kerja sama dengan Tanoto Foundation. Ini adalah yayasan sosial yang didirikan oleh Sukanto Tanoto demi menuntaskan mimpi besarnya. Chairman RGE itu rupanya berharap besar supaya kemiskinan segara hilang dari negeri kita.

Tanoto Foundation yang dijadikan alat oleh Sukanto Tanoto untuk mewujudkan mimpinya. Mereka memiliki tiga kegiatan utama, yakni pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kualitas hidup.

Wirausaha berkaitan erat dengan empowerment yang menjadi salah satu fokus kegiatan Tanoto Foundation. Di dalamnya tercakup upaya untuk mengajak seseorang mandiri dalam kehidupannya. Kemandirian juga termasuk salah satu aspek penting yang dibutuhkan wirausahawan.

Ada banyak kegiatan yang dilakukan Royal Golden Eagle bersama Tanoto Foundation dalam mengembangkan wirausahawan. Salah satunya dilakukan di Pangkalan Kerinci yang ada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Berikut ini beberapa di antaranya.

PENSIUNAN PNS JADI PENGUSAHA PALET KAYU

Royal Golden Eagle

Dalam mengembangkan semangat berwirausaha ke masyarakat bersama dengan Tanoto Foundation, Royal Golden Eagle biasa menjalankan program kemitraan. Perusahaan mengajak masyarakat sebagai mitra untuk memenuhi kebutuhannya. Hal seperti itu salah satunya dilakukan oleh anak perusahaan RGE, Asian Agri, melalui unit bisnisnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper.

PT RAPP menggandeng pihak yang mau menyuplai kebutuhan operasinya. Selain membuka kesempatan tersebut, unit bisnis bagian dari RGE tersebut juga memberi dukungan melalui pendampingan, bahkan hingga jaminan untuk mempermudah mendapatkan modal.

Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah Zamhur. Ia adalah pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu mengisi hari tuanya dengan kegiatan positif. Zamhur malah mampu menjadi seorang pengusaha palet kayu yang sukses.

Zamhur menjalani masa purnatugas PNS pada 2001. Sesudahnya, ia mendirikan usaha palet kayu di Pangkalan Kerinci. Hasil produksinya kemudian dikirim ke PT RAPP yang siap menampung sebagai pembeli.

Sebelum bisa memproduksi palet kayu, Zamhur mendapat pelatihan terlebih dulu dari Tanoto Foundation dan unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut. “Dari RAPP kami dapat pembinaan, cara kerja dan alat kerja,” tutur Zamhur.

Berkat bisnis yang ditekuninya tersebut, Zamhur mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Salah satu anaknya bahkan ada yang bekerja sebagai dokter. Selain itu, ia pun bisa menunaikan ibadah haji.

Alhamdulillah, saya sudah naik haji tiga kali. Itu hasil bersih dari usaha ini,” ujar Zamhur.

MANTAN PENEBANG LIAR JADI PENGUSAHA SUKSES

Royal Golden Eagle

Selain memberi manfaat kepada pihak lain, Royal Golden Eagle bertekad untuk ikut aktif menjaga keseimbangan iklim.. Dua misi tersebut tercapai dengan nyata ketika memberi dukungan kepada Basril.

Ia adalah seorang mantan penebang hutan liar yang berdomisili di Pangkalan Kerinci. Basril sering memgambil kayu tanpa peduli aksinya itu membahayakan lingkungan. Ketika akhirnya lahan yang biasa dimanfaatkan menjadi area konsesi RGE, Basril terancam menganggur.

Terancam kehilangan mata pencaharian jelas membuat Basril bingung. Namun, ia mengetahui ada kesempatan untuk menjadi mitra Royal Golden Eagle. Peluang itu pun tak disia-siakannya. Basril segera mendaftar.

Oleh Royal Golden Eagle, Basril diarahkan untuk mengikuti program pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) lokal. Kegiatan itu merupakan upaya dari grup yang bernama awal Raja Garuda Mas tersebut untuk mengembangkan masyarakat.

Di sana Basril mendapat pendampingan dan pelatihan beragam keterampilan baru. Semua itu membuatnya berani mendirikan perusahaan yang dinamainya CV Bina Terusan pada 2002. Putusan itu diambil setelah menjadi mitra salah satu anak perusahaan RGE, APRIL Group.

Oleh Grup APRIL, Basril diberi kesempatan untuk memberikan pelayanan panen, canal bridging, dan pemeliharaan kanal. Ia juga mendapat bantuan pinjaman satu eskavator dari anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut yang diapakai untuk memelihara kanal.

Bukan hanya itu kemudahan yang diperoleh oleh Basril dari RGE. Pada 2008, berkat jaminan dari Royal Golden Eagle, Basril mendapat pinjaman modal senilai Rp3,8 miliar dari Bank Tabungan Negara. Dana itu kemudian dipakainya untuk menambah eskavator. Sampai saat ini, CV Bina Terus memiliki sepuluh eskavator dan mempekerjakan 75 karyawan.

“Saya percaya bahwa program ini telah mengubah saya menjadi lebih baik. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya, Basril, dengan beberapa tahun pengalaman dalam penebangan liar akan menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses di Pangkalan Kerinci. Saya berharap bahwa kemitraan dengan APRIL akan bertahan dan saya bisa berbagi rezeki dengan orang-orang lokal yang bekerja di perusahaan saya,” kata Basril.

DARI JASA PENGANGKUT SAMPAH KE USAHA BERASET RP100 MILIAR

Royal Golden Eagle

Husni merupakan salah satu contoh pengusaha dari Pangkalan Kerinci yang sukses berkat dukungan Royal Golden Eagle. Dulunya ia mengelola jasa pengangkutan sampah. Namun, sejak 2001, Husni mengikuti program pengembangan UKM yang dilakukan oleh sebuah unit bisnis RGE, PT RAPP. Pilihan itu membuat usahanya berkembang pesat.

Husni mendapat beragam pelatihan dan kemudahan dari Royal Golden Eagle sebagai mitra. Ia memperoleh kontrak kerja baru sebagai pemotong rumput di PT RAPP. Namun, usaha yang membuatnya melejit adalah persewaan alat berat.

Dengan bendera PT Nilo Engineering, Husni menyewakan eskavator dan truk kepada PT RAPP. Semua itu membuat usaha Husni berkembang pesat. Kini perusahaannya telah memiliki 30 alat berat dan 20 truk.

“Kami bisa sebesar ini sesuai dengan program perusahaan yang ingin membina pengusaha lokal. Aset pertama kami sekitar Rp 70 juta, hingga sekarang aset kami mendekati Rp 100 miliar,” ungkap Husni.

Kisah para pengusaha asal Pangkalan Kerinci untuk memperlihatkan betapa besar kontribusi Royal Golden Eagle. Grup yang sempat bernama Raja Garuda Mas tersebut ternyata benar-benar membuktikan prinsip kerjanya secara nyata, yakni memberi manfaat kepada masyarakat dan negara.

Comments are closed.